oleh: Yayak Yatmaka (10-04-2006)
Melihat kartun editorial koran Rakyat Merdeka, terutama gambar kartun yang menyerang pemerintah Australia dengan telah memakai senjata berupa gambaran 'cara hubungan seksual nista', bisa jadi petunjuk telah terjadinya loncatan besar keberanian dan kesadaran baru insan pers Indonesia.
Kartun sebagai senjataDi Koran Rakyat Merdeka akhir minggu bulan Maret termuat karikatur menghujat dua dingos berwajah John Howard dan Alexander Downer lagi bersiap mau bersodomi dan bilang "We need Papua. Ayo Al, mainkan!". Seminggu kemudian The Australian membalas dengan karikatur bergambar binatang berpeci berwajah mirip Soesilo Bambang Yudhoyono tertawa dan bilang: "Don't take this in the wrong way!", sedang menyodomi binatang hitam berambut kriting dan tulang di hidungnya mengingatkan pada wajah orang Papua.
SBY tak ingin melihat karikatur itu dan hanya bilang bahwa itu serangan yang keterlaluan dan barang sampah, menunjukkan selera rendah redaksi dan pembaca koran itu. Howard dan Downer juga memberikan tanggapan sejenis atas kartun Rakyat Merdeka. Setengah memaki dengan mengatakan bahwa kartun itu miskin rasa dan rendah pikiran. Perang karikatur ini terjadi menyertai hubungan diplomatik yang memanas akibat penerimaan pemerintah Australia atas 42 pencari suaka dari Papua.
Kartun, terakhir ini telah secara beruntun dipakai untuk perang urat syaraf. Seperti yang baru saja terjadi, dunia dibikin panas akibat Koran Denmark Jyllands Posten memuat karikatur Muhammad, nabi para muslim yang sangat taat menjalani larangannya untuk tidak sekalipun menggambarkan profil wajah nabinya itu. Api menyala di hampir semua negara Islam di Timur Tengah maupun di negara yang berwarga muslim. Juga, di Indonesia.
Bahkan Duta Besar Denmark menyatakan permintaan maaf kepada kaum Muslim atas pemuatan kartun itu, meski tetap menyatakan bahwa pemerintahnya tak kuasa untuk membatasi pers di negaranya yang demokratis. Kemudian hari diketahui bahwa koran itu milik orang Yahudi.
Ketika sebuah koran di Iran membuka lomba kartun internasional dengan tema "Holocaust", beberapa saat sesudah kasus pemuatan kartun Muhammad itu, mencuat, banyak media Eropa menduga bahwa barisan Muslim lagi menyiapkan serangan balasan.
Sebuah bom, beberapa tahun lalu meledak di sebuah disko di Yerusalem. Sehari setelah pemuatan di suatu koran Israel sebuah karikatur yang menggambarkan seekor babi memakai surban serupa seperti yang dikenakan Yasser Arafat. Ledakan itu mengakibatkan matinya beberapa anak muda.
Ternyatalah bahwa kartun politik, di antaranya memang efektif untuk dipakai menyerang golongan atau lawan lain yang dianggap berseberangan sikap, pemikiran dan ideologinya. Sesuai sifatnya yang mengusik emosi, menggelitik syaraf gelak, dan menghantarkan ke pemikiran kritis, sebuah kartun dengan penggambaran tertentu bisa dipakai untuk melukai perasaan atau membunuh karakter lawan.
Gambar sebagai senjata, sebagai alat propaganda dalam perang urat syaraf bahkan dipakai semenjak orang mengenal ilmu dan media cetak. Secara terbuka dipakai sejak Perang Dunia I. Yang bisa dijadikan contoh klasik dan tertinggal lama di benak orang sedunia adalah gambar Charlie Chaplin. Ia memanasi perang propaganda antara Sekutu melawan Jerman. Kumis segi empat Chaplin dan cara berjalannya yang seperti pinguin memang sengaja dipakai untuk mengejek Hitler selama Perang Dunia II.
Kartun dan Sejarah Politik di IndonesiaDi koran dan penerbitan serta tembok-tembok di beberapa kota besar di Indonesia antara 1945 - 1949 banyak dimuat dan tergambarkan berbagai kartun melawan penjajah. Gambarnya, tentara Jepang ditendang oleh kaki besar telanjang, dan tentara Inggris ditusuk. Tertulis "Jepang kita tendang, Inggris kita linggis."
Saat Soekarno menyatakan Konfrontasi melawan Malaysia 1963, hampir setiap hari berbagai koran di Indonesia memuati karikatur yang menistakan Tengku Abdulrachman, Perdana Menteri Malaysia waktu itu. Slogan 'Ganyang Malaysia' disertai dengan gambar Tengku Abdulrahman sebagai boneka Inggris. Beberapa koran bahkan menggambarkannya bertubuh binatang, sebuah cara umum dan jamak dalam membangkitkan kebencian kolektif atas lawan lewat gambar kartun. Karakter Perdana Menteri itupun dibanting senilai tinjanya orang Inggris.
Di masa Orba lain lagi. Setelah koran kiri macam Harian Rakyat, Bintang Timur, Suluh Marhaen, Swadesi dsb. diberangus atau mati perlahan-lahan, media pers Indonesia memang kehilangan kartunis politik yang hebat dan jenial karena ditangkap atau dibunuh seiring Pembantaian Massal 1965 dan pembersihan Sukarnois lewat operasi Bersih Lingkungan.
Sensor pers dilakukan sangat ketat. Saat ke saat. Terbukti ketika Suluh Marhaen di Yogya, akhir 1960an, memuat sebuah katun strip berceritera tentang bebek-bebek gemuk bernama Hart Godean dan Tience Dembleb, koran itu dibredel dan karikaturisnya dipenjara tahunan lamanya. Setelah itu, tak satupun koran dan majalah di Indonesia berani memanfaatkan fungsi kartun editorialnya untuk mengkritik pemerintahan Orde Baru. Bila ada, hanya berupa sindiran dan amat sangat simbolik serta halus. Yang sama sekali tabu adalah memanfaatkan gambar untuk mempermainkan praktek-praktek biadab tentara dan kerakusan keluarga Cendana.
Baru pada awal 1991 terbuka kembali mata dan kesadaran orang Indonesia saat beredarnya sebuah Kalender poster bertajuk "Tanah Untuk Rakyat" yang berisi melulu kartun, dengan teknik Humor Hitam dan telah membuat pemerintahan Orba, keluarga Cendana dan Militer secara serempak kebakaran jenggot. Kejaksaan Agung melarang peredaran, pemajangan, bahkan penyimpanan barang itu. Dan menginstruksikan penangkapan pembuatnya, hidup atau mati, serta menuduhnya telah melakukan tindakan subversif.
Berani dan sadarMelihat kartun editorial koran Rakyat Merdeka, terutama gambar kartun yang menyerang pemerintah Australia dengan telah memakai senjata berupa gambaran 'cara hubungan seksual nista', bisa jadi petunjuk telah terjadinya loncatan besar keberanian dan kesadaran baru insan pers Indonesia. Ada hubungannya dengan RUUAPP (Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi)? Entahlah. Suatu sikap yang banal, memang. Tak aneh, bila balasannya juga banal.
Rabu, 14 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar